Komitmen itu…


Wuih… ga berasa udah bulan February aja ..padahal  perasaan tempo hari baru aja new year eve, bunyi petasan dimana-mana. Baiklah… kali ini tulisannya rada sotoy dan sedikit serius nih, mudah-mudahan yang mampir kemari  ga pada muntah abis nge-bacanya. *renggangkan jari-jari*

Gambarnya minjem dari sini

Jadi , setelah memperhatikan dunia sekitar dan perjalanan hidup sampe seumur ini lumayanlah data yang bisa diambil untuk mengambil suatu hipotesa soal apa sebenarnya komitmen  itu. Sekali lagi ini adalah analisa sotoy dan sifatnya sangat subjektif banget lho ya.

Komitmen itu menurut kamus besar bahasa Indonesia adalah perjanjian (keterikatan) untuk melakukan sesuatu. Applikasi dari suatu komitmen itu bisa dengan perorangan, organisasi atau instansi. Dalam kehidupan sehari-hari sebenarnya kita sering melakukan suatu komitmen baik sengaja atau tidak sengaja, misalnya dengan berjanji untuk hang out bareng dengan teman-teman atau pun yang tertulis di lembaran kontrak kerja atau yang lain.

Dulu waktu wara-wiri nyari gawean sehabis tamat dari sekolahan, beberapa kali interviewer atau headhunter menanyakan “ apa yang terpikirkan oleh anda soal komitmen dengan kami (perusahaan)?” dan yang paling aku inget adalah pertanyaan seorang talent acquisition itu “apakah anda mau berkomitmen dengan kami dalam 5 tahun kedepan?” , waktu itu aku jawab “waktu saya memutuskan untuk melamar posisi yang Ibu tawarkan, saya sudah siap berkomitmen, menurut saya dalam setiap pekerjaan ada effort dan achievement, selama saya pikir itu masih layak, saya berusaha untuk tetap di sini”. Aku inget banget dengan mba’-mba’ itu, setelah beberapa lama aku bergabung dengan team mereka ..eh ternyata si mba’nya yang resign duluan, mungkin dapet tawaran lebih baik di luar sana 🙂 . Menurutku sah-sah aja setiap orang berpikran seperti aku, karena di dalam dunia kerja ada suatu titik di mana kita merasa achievement sudah tidak sesuai dengan effort yang sudah kita berikan, nah… di saat itulah mulai timbul kegelisahan dan pikiran untuk mengakhiri komitmen, ataupun alasan untuk mengakhiri suatu komitmen dengan suatu company adalah merasa tantangan di dalamnya sudah tidak ada lagi untuk posisi yang diduduki sekarang dan ada tawaran yang lebih menarik dan punya prospek bagus buat masa depan.

Kalau komitmen dengan personal dalam hal ini pasangan, mungkin ceritanya sedikit kompleks karena bukan hanya berhubungan dengan effort dan achievement aja, tapi juga bagaimana bisa menghargai pasangan, menjaga perasaannya dan sebagainya dan sebagainya. Karena aku pria tentunya lebih santai dalam urusan ini, karena umumnya kalau pria lebih berpikir logis dari wanita yang lebih sering bermain dengan intuisi mereka (attention: ini kata artikel-artikel di majalah lho ya 😀 ) . Bukannya sok tau soal wanita dan semua kekompleksan yang ada di dalam diri mereka, tapi memahami mereka bener-bener lebih sulit dari pada belajar mata kuliah Kalkulus 8 sks ditambah Matematika Teknik 6 sks yang di dalamnya ada integral trigonometri pangkat 3 dan deret fourier , hehehehe…. In My Sotoy Opinion lagi nih ya, setiap dua orang yang memutuskan untuk berkomitmen dalam suatu hubungan punya kewajiban untuk menjaga perasaan pasangannya dan selayaknya berusaha untuk tidak merusak kepercayaan yang dipupuk diantara keduanya ( cie… pupuk, emang tanaman ngoahahhaa 😛 ).  Setiap orang yang berkomitmen dengan lawan jenisnya akan selalu berharap pasangannya bisa menjaga komitmen yang sudah mereka bentuk atas dasar saling percaya, menghargai, dan toleransi dalam konteks logis. Menurutku toleransi itu harus tetap logis karena sekalipun begitu dalamnya rasa ‘love’ seseorang ke pasangannya, saat sisi logis sudah terpinggirkan maka komitmen itu tidak akan berumur panjang. Komunikasi adalah hal yang paling paling penting dalam berkomitmen karena segala sesuatu yang mengganjal dihati selayaknya harus dibicarakan untuk mencegahnya menumpuknya persoalan, bahayanya kalau setiap masalah ditumpuk tanpa dibicarakan maka ..taraaaa .akan jadi bomb waktu yang suatu saat bisa meledak dan berakhirlah suatu kata yang bernama ‘komitmen’ antara dua orang anak manusia yang awalnya saling mencinta ( wadowh.. ini bukan curhat ya.. 😛 ).

Jadi intinya jangan takut untuk berkomitmen, jalanin aja dulu sekalian belajar mengenal dan tetaplah berusaha logis dalam menyikapi segala sesuatu, perasaan itu harus berada di urutan kedua setelah logis biar tetep bisa mikir bener. Baiklah… sekian dulu sampahan yang berwujud beberapa paragraph ini 😀 .

Advertisements
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: