SCADA SYSTEM


Dalam pengoperasian sistem tenaga listrik, memerlukan banyak informasi mengenai kondisi sistem setiap saat (real time), misalnya kondisi Open atau Close dari Circuit Breaker (pemutus), juga besaran yang harus selalu terukur misalnya tegangan dan arus. Untuk memantau informasi-informasi sistem tenaga listrik, pada mulanya Dispatcher mengambil informasi secara langsung kepada Operator Gardu Induk atau Pusat Pembangkit secara berkala melalui sarana-sarana telekomunikasi seperti radio komunikasi dan telepon untuk mendapatkan informasi mengenai data-data yang sangat penting tersebut.

Pada operasi sistem tenaga listrik modern semakin banyak GI dan Pusat Tenaga Listrik yang beroperasi, maka cara pengambilan informasi seperti cara di atas sudah tidak memadai lagi. Masalah tersebut di atas yang kemudian mendorong PLN untuk membangun suatu pusat pengontrol (Area Control Center / ACC) yang dilengkapi dengan peralatan komputer yang disebut sistem SCADA (Supervisory Control And Data Acquisition). Pemasangan sistem SCADA di Region III Ungaran tersebut selesai pada tahun 1986 dan mulai beroperasi pada bulan Januari 1987.

Maksud dari SCADA yaitu pengawasan, pengontrolan dan pengumpulan data. Sistem SCADA terdiri dari tiga bagian utama yaitu Master Station (MS), Remote Terminal Unit (RTU) dan Saluran Komunikasi antar Master Station dan RTU. Akuisisi data adalah proses untuk mengumpulkan semua informasi sistem tenaga listrik dari RTU ke Control Center, merubah data-data yang diterima menjadi data-data rekayasa serta menyimpannya sebagai real time database.

Ketepatan dan keakuratan informasi serta kondisi sistem tenaga listrik yang berubah setiap saat (realtime) sangat dibutuhkan dalam pengoperasian sistem tenaga listrik. Informasi tersebut merupakan terjemahan dari tingkah laku sistem tenaga listrik itu sendiri. Sedangkan keberhasilan pengoperasian sistem tenaga listrik tergantung pada kesanggupan Dispatcher untuk mengartikan informasi-informasi tersebut dan melakukan perintah-perintah yang baik dan cepat.

Dengan adanya sistem SCADA ini maka informasi yang didapat selalu “up to date” (sesuai dengan waktunya) selama 24 jam. Setiap perubahan kondisi sistem tenaga listrik langsung dapat diketahui tanpa menunggu laporan dari Operator Gardu Induk atau Pusat Pembangkit. Bahkan Dispatcher mungkin mengetahui lebih dahulu daripada Operator Gardu Induk/Pusat Pembangkit. Hal ini dimungkinkan karena di setiap Gardu Induk/Pusat Pembangkit telah dilengkapi dengan RTU (Remote Terminal Unit) yang menyadap semua informasi yang diperlukan ke RCC Ungaran melalui saluran telekomunikasi.

Selain itu, data-data yang merupakan kondisi sistem dapat disimpan dalam waktu yang relatif lama dalam suatu database sehingga dapat digunakan sebagai bahan evaluasi dari kinerja secara keseluruhan. Semua data sistem dan aktivitas sistem (meliputi aksi Dispatcher dan operator di GI) akan tersimpan dalam basis data. Data di dalam basis data inilah yang kemudian diolah akan digunakan untuk memperbaiki atau untuk melakukan perencanaan operasi sistem.

Tulisan ini dikumpulkan dari berbagai sumber baik blog maupun tutorial.

Advertisements
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: